penerapan teori belajar kontruktivisme

Kamis, 07 Juli 2011

penerapan teori belajar konstruktivisme dalam pembelajaran

PENERAPAN TEORI KONSTRUKTIVISME
DALAM PEMBELAJARAN DI SD




MAKALAH
















Oleh:
ABDUL AZIZ
NIM: 098012029




UNIVERSITAS PGRI ADI BUANA SURABAYA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
Juli 2011






DAFTAR ISI


BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Tujuan Makalah
BAB II ISI
A. Teori Belajar < sans-serif;">

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar belakang Masalah
Aspek penting yang perlu ada dalam pembelajaran ini ialah strategi pengajaran dan pembelajaran. Guru perlu bertindak sebagai fasilitator, bersikap terbuka, imaginatif, kreatif, inovatif dan inventif. Guru hendaklah memotivasi murid supaya senantiasa terus mencoba, walaupun menemui kegagalan. Dalam penyediaan projek, murid diberi kebebasan merangka dan membuat projek berdasarkan pengetahuan, kemahiran dan pengalaman mereka daripada pelbagai bidang ilmu yang lain. pemikiran analitikal, pemikiran lateral, lawatan dan rujukan ilmiah. Selain itu, tunjuk cara juga mesti dilakukan di mana guru perlu mendemonstrasi kepada pelajar cara yang betul dan selamat dalam penggunaan pelbagai alat dan bahan untuk mereka praktikkan. Satu kumpulan dinamik yaitu pembagian kelas kepada beberapa kumpulan kecil sebaiknya dilaksanakan di dalam kelas selain sumbang saran di mana satu perbincangan secara intensif untuk penjanaan idea atau mencari idea dilakukan dengan menggalakkan penglibatan semua ahli sans-serif;">

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar belakang Masalah
Aspek penting yang perlu ada dalam pembelajaran ini ialah strategi pengajaran dan pembelajaran. Guru perlu bertindak sebagai fasilitator, bersikap terbuka, imaginatif, kreatif, inovatif dan inventif. Guru hendaklah memotivasi murid supaya senantiasa terus mencoba, walaupun menemui kegagalan. Dalam penyediaan projek, murid diberi kebebasan merangka dan membuat projek berdasarkan pengetahuan, kemahiran dan pengalaman mereka daripada pelbagai bidang ilmu yang lain. pemikiran analitikal, pemikiran lateral, lawatan dan rujukan ilmiah. Selain itu, tunjuk cara juga mesti dilakukan di mana guru perlu mendemonstrasi kepada pelajar cara yang betul dan selamat dalam penggunaan pelbagai alat dan bahan untuk mereka praktikkan. Satu kumpulan dinamik yaitu pembagian kelas kepada beberapa kumpulan kecil sebaiknya dilaksanakan di dalam kelas selain sumbang saran di mana satu perbincangan secara intensif untuk penjanaan idea atau mencari idea dilakukan dengan menggalakkan penglibatan semua ahli dalam kelas dan seterusnya ceramah boleh juga diaplikasikan dalam subjek ini untuk memberi maklumat dan gambaran yang terbaik kepada pelajar. konstruktivisme harus dibina di mana idea dan pendapat pelajar mesti dihargai, aktivitas dalam kelas perlu menjabarkan pelajar, guru menimbulkan permasalahan yang berkaitan dengan pembelajaran kepada pelajar, pengajaran dan pembelajaran di bina berdasarkan konsep asas dan utama serta pengajaran dan pembelajaran di nilai dalam konteks pengajaran.
Walaupun terdapat pelbagai strategi pengajaran dan pembelajaran yang dicadangkan oleh kementerian, namun masih belum terdapat satu strategi, pendekatan, kaedah atau teknik tertentu yang paling sesuai digunakan dalam situasi pengajaran dan pembelajaran hari ini. Manakala menurut Noriah (2000) pula, biarpun keberkesanan pendekatan konstruktivisme dalam proses pengajaran dan pembelajaran kerap diketengahkan dan diperkatakan, namun pengaplikasian dan pengamalan pendekatan konstruktivisme di kalangan guru secara teknis pembelajara, adalah masih kurang.
Guru harus sadar tentang strategi pengajarannya dan perlu berfikir tentang cara untuk meningkatkan proses pengajarannya. Antara masalah yang telah dikenalpasti ialah pelajar sukar mengeluarkan ide sendiri dan terlalu bergantung kepada guru semata-mata di samping kemahiran belajar di kalangan pelajar yang rendah terutamanya dalam menyelesaikan masalah. Beliau menyatakan bahawa masalah yang diberikan kepada pelajar juga merupakan masalah yang perlu difikirkan oleh guru. Selain daripada itu, masalah lain yang wujud ialah kesukaran pelajar untuk menguasai topik-topik yang memerlukan asas pengetahuan yang tinggi. Hal ini menyebabkan proses pengajaran dan pembelajaran menjadi kurang berkesan. Kaedah pembelajaran yang kurang sehat akan menyebabkan proses pembelajaran menjadi kurang efektif.
Teori Konstruktivisme bukanlah satu teori yang baru dalam bidang pendidikan telah lama dipraktikkan dalam proses pengajaran. Prisip-prinsip yang terdapat dalam teori ini sebenarnya boleh diterapkan dalam mata pelajaran lain juga. Ini kerana dalam proses pengajaran dan pembelajaran secara konstruktivisme, pelajar membina struktur pengetahuan mereka sendiri dan pengkaji melihat bahawa Konstruktivisme ini merupakan satu kaedah terbaik yang boleh diterapkan dalam proses pengajaran dan pembelajaran juga yang lain. Oleh itu, kajian ini dijalankan untuk melihat aplikasi konstruktivisme dalam proses pengajaran dan pembelajaran.


B. Tujuan Makalah
Dalam makalah ini hanya dapat dikaji sebagai berikut :
Untuk mengetahui penerapan pembelajaran yang berasas pada teori belajar konstruktivisme.


















BAB II
ISI
A. Teori Belajar
Menurut paradigma konstruktivistik, ilmu pengetahuan bersifat sementara terkait dengan perkembangan yang dimediasi baik secara sosial maupun kultural, sehinggacenderung bersifat subyektif. Belajar menurut pandangan ini lebih sebagai proses regulasi diri dalam menyelesikan konflik kognitif yang sering muncul melalui pengalaman konkrit,wacana kolaboratif, dan interpretasi. Belajar adalah kegiatan aktif siswa untuk membangun pengetahuannya. Siswa sendiri yang bertanggung jawab atas peistiwa belajar dan hasil belajarnya. Siswa sendiri yang melakukan penalaran melalui seleksi dan organisasi pengalaman serta mengintegrasikannya dengan apa yang telah diketahui. Belajar merupakan proses negosiasi makna berdasarkan pengertian yang dibangun secara personal. Belajar bermakna terjadi melalui refleksi, resolusi konflik kognitif, dialog dan lain-lain.
Selain memperhatikan rasional teoretik, tujuan, dan hasil yang ingin dicapai, modelpembelajaran memiliki lima unsur dasar (Joyce & Weil (1980), yaitu :
1. Syntax yaitu langkah-langkah operasional pembelajaran,
2. Social system adalah suasana dan normayang berlaku dalam pembelajaran,
3. Principles of reaction menggambarkan bagaimana seharusnya guru memandang, memperlakukan, dan merespon siswa,
4. Support system segala sarana, bahan, alat, atau lingkungan belajar yang mendukung pembelajaran, dan
5. Instructional dan nurturant effects hasil belajar yang diperoleh langsung berdasarkantujuan yang disasar (instructional effects) dan hasil belajar di luar yang disasar (nurturanteffects)
B. Proses Pembelajaran
Dalam hal ini, guru berperan sebagai expert teacher yang memberi keputusan mengenalisis, menseleksi proses-proses kognitif untuk mengaktifkan pengetahuan awal danpengelompokan siswa. Sebagai mediator, guru memandu mengetengahi antar siswa, membantu para siswa memformulasikan pertanyaan atau mengkonstruksi representasi visual dari suatu masalah,memandu para siswa mengembangkan sikap positif terhadap belajar, pemusatan perhatian, mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan awal, dan menjelaskan bagaimana mengaitkan gagasan-gagasan para siswa, pemodelan proses berpikir dengan menunjukkankepada siswa ikut berpikir kritis.Terkait dengan desain pembelajaran, peran guru adalah menciptakan danmemahami sintaks pembelajaran. Penciptaan sintaks pembelajaran yang berlandaskan pemahaman akan mempermudah implementasi pembelajaran oleh guru lain atau olehsiswa itu sendiri.Sintaks pembelajaran adalah langkah-langkah operasional yang dijabarkan berdasarkan teori desain pembelajaran. Sintaks pembelajaran yang berlandaskan paham konstruktivistik acap kali mengalami adaptasi sesuai dengan kebutuhan. Hal ini menjadi penting untuk menyempurnakan sintaks yang rekursif, fleksibel, dan dinamis.
Di samping penguasaan materi, guru juga dituntut memilikikeragaman model atau strategi pembelajaran, karena tidak ada satu model pembelajaranyang dapat digunakan untuk mencapai tujuan belajar dari topik-topik yang beragam. Apabila konsep pembelajaran tersebut dipahami oleh para guru, maka upayamendesain pembelajaran bukan menjadi beban, tetapi menjadi pekerjaan yang menantang.Konsep pembelajaran tersebut meletakkan landasan yang meyakinkan bahwa peranan gurutidak lebih dari sebagai fasilitator, suatu posisi yang sesuai dengan pandangankonstruktivistik. Tugas sebagai fasilitator relatif lebih berat dibandingkan hanya sebagaitransmiter pembelajaran. Guru sebagai fasilitator akan memiliki konsekuensi langsungsebagai perancah, model, pelatih, dan pembimbing.


C. Penerapan Teori Konstruktivistik dalam Pembelajaran
Hasil belajar tersebut secara teoretik menjamin siswa untuk memperoleh keterampilan penerapan pengetahuan secara bermakna :
a. Peranan Guru dalam Pembelajaran
Kemampuan yang harus dimiliki oleh gurudalam pembelajaran. Kemampuan-kemampuan tersebut, adalah memiliki pemahaman yang baik tentang kerja baik fisik maupun sosial, memiliki rasa dan kemampuan mengumpulkandan menganalisis data, memiliki kemampuan membantu pemahaman siswa, memilikikemampuan mempercepat kreativitas sejati siswa, dan memiliki kemampuan kerja samadengan orang lain. Para guru diharapkan dapat belajar sepanjang hayat seirama denganpengetahuan yang mereka perlukan untuk mendukung pekerjaannya serta menghadapitantangan dan kemajuan sains dan teknologi. Guru tidak diharuskan memiliki semuapengetahuan, tetapi hendaknya memiliki pengetahuan yang cukup sesuai dengan yangmereka perlukan, di mana memperolehnya, dan bagaimana memaknainya. Para gurudiharapkan bertindak atas dasar berpikir yang mendalam, bertindak independen dankolaboratif satu sama lain, dan siap menyumbangkan pertimbangan-pertimbangan kritis.Para guru diharapkan menjadi masyarakat memiliki pengetahuan yang luas danpemahaman yang mendalam. Di samping penguasaan materi, guru juga dituntut memilikikeragaman model atau strategi pembelajaran, karena tidak ada satu model pembelajaranyang dapat digunakan untuk mencapai tujuan belajar dari topik-topik yang beragam. Apabila konsep pembelajaran tersebut dipahami oleh para guru, maka upayamendesain pembelajaran bukan menjadi beban, tetapi menjadi pekerjaan yang menantang.Konsep pembelajaran tersebut meletakkan landasan yang meyakinkan bahwa peranan gurutidak lebih dari sebagai fasilitator, suatu posisi yang sesuai dengan pandangankonstruktivistik.
2. Penggubahan Lingkungan dan Sumber Belajar
Salah satu asas pembelajaran yang harus dipahami adalah “membawa dunia siswa ke dunia guru dan menghantarkan dunia guru ke dunia siswa”. Tujuannya, adalah untuk mengenali potensi siswa dan memberdayakan potensi tersebut sehingga melahirkan pencerahan bagi siswa itu sendiri. Alternatif upaya pemberdayaan tersebut dapat dilakukandengan penggubahan lingkungan dan sumber belajar. Termasuk lingkungan belajar adalah sekolah, keluarga, masyarakat, pramuka, danmedia masa. Termasuk sumber belajar adalah guru, orang tua, teman dewasa, temansebaya, bahan, alat, dan lingkungan itu sendiri. Sumber belajar ada yang dirancang khusu untuk pembelajaran (by design) dan ada pula yang bukan dirancang khusus untuk pembelajaran, tetapi dapat digunakan untuk keperluan pembelajaran ( by utilization ). Oleh karena pembelajaran merupakan kegiatan rekayasa supaya terjadi peristiwa belajar, maka penggubahan lingkungan dan sumber belajar di sini adalah terkait dengan upaya guru memfasilitasi siswa untuk berinteraksi dengan lingkungan dan sumber belajar tersebut. Upaya ini dilakukan baik pembelajaran harus terjadi di dalam kelas atau di luarkelas.
D. Prinsip Dalam Penerapan Teori Konstruktivistik
Secara umum, terdapat lima prinsip dasar yang melandasi kelas konstruktivistik, yaitu :
1. Meletakkan permasalahan yang relevandengan kebutuhan siswa,
2. Menyusun pembelajaran di sekitar konsep-konsep utama,
3. Menghargai pandangan siswa,
4. Materi pembelajaran menyesuaikan terhadap kebutuhansiswa,
5. Menilai pembelajaran secara kontekstual
Hal yang lebih penting, bagaimana guru mendorong dan menerima otonomi siswa,investigasi bertolak dari data mentah dan sumber-sumber primer (bukan hanya buku teks), menghargai pikiran siswa, dialog, pencarian, dan teka-teki sebagai pengarah pembelajaran.Secara tradisional, pembelajaran telah dianggap sebagai bagian “menirukan”suatuproses yang melibatkan pengulangan siswa, atau meniru-niru informasi yang baru disajikan dalam laporan hasil lembar kerja siswa atau kuis dan tes.
E. Ciri-ciri Guru Konstruktivisme
Guru konstruktivistik memiliki ciri-ciri sebagaiberikut.
a. Menghargai otonomi dan inisiatif siswa.
b. Menggunakan data primer dan bahan manipulatif dengan penekanan padaketerampilan berpikir kritis.
c. Mengutamakan kinerja siswa berupa mengklasifikasi, mengananalisis, memprediksi,dan mengkreasi dalam mengerjakan tugas.
d. Menyertakan respon siswa dalam pembelajaran dan mengubah model atau strategipembelajaran sesuai dengan karakteristik materi pelajaran.
e. Menggali pemahaman siswa tentang konsep-konsep yang akan dibelajarkan sebelum sharing pemahamannya tentang konsep-konsep tersebut
f. Menyediakan peluang kepada siswa untuk berdiskusi baik dengan dirinya maupundengan siswa yang lain.
g. Mendorong sikap inquiry siswa dengan pertanyaan terbuka yang menuntut merekauntuk berpikir kritis dan berdiskusi antar temannya.
h. Mengelaborasi respon awal siswa.
i. Menyertakan siswa dalam pengalaman pengalaman yang dapat menimbulkan kontradiksi terhadap hipotesis awal mereka dan kemudian mendorong diskusi.
j. Menyediakan kesempatan yang cukup kepada siswa dalam memikirkan dan mengerjakan tugas- tugas.
k. Menumbuhkan sikap ingin tahu siswa melalui penggunaan model pembelaj aran yang beragam.






































BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Perencanaan pembelajaran sangat penting untuk membantu guru dan siswa dalam mengkreasi, menata, dan mengorganisasi pembelajaran sehingga memungkinkan peristiwa belajar terjadi dalam rangka mencapai tujuan belajar.Model pembelajaran sangat diperlukan untuk memandu proses belajar secaraefektif. Model pembelajaran yang efektif adalah model pembelajaran yang berorientasi kemajuan, memiliki sintak pembelajaran yang sedehana, mudah dilakukan, dapat mencapai tujuan dan hasil belajaryang disasar.Model pembelajaran yang dapat diterapkan pada bidang studi hendaknya dikemaskoheren dengan hakikat pendidikan bidang studi tersebut. Namun, secara filosofis tujuan pembelajaran adalah untuk memfasilitasi siswa dalam penumbuhan dan pengembangan kesadaran belajar, sehingga mampu melakukan olah pikir, rasa, dan raga dalam memecahkan masalah kehidupan di dunia nyata. Model-model pembelajaran yang dapat mengakomodasikan tujuan tersebut adalah yang berlandaskan pada paradigma konstruktivistik sebagai paradigma alternatif.
B. Saran

Dalam penerapan pembelajaran ini guru harus mengutamakan kinerja siswa berupa mengklasifikasi, mengananalisis, memprediksi,dan mengkreasi dalam mengerjakan tugas. Sehingga tujuan yang diingginkan tercapai.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar